Kamis, 07 November 2013

JABATAN FUNGSIONAL GURU 2013


Pada tahun 2013 ada perubahan Jabatan Fungsional guru yang hanya 4 tingkatan, yaitu :

- Golongan III/a – III/b dengan sebutan Guru Pertama
- Golongan III/c – III/d dengan sebutan Guru Muda
- Golongan IV/a – IV/c dengan sebutan Guru Madya
- Golongan IV/d – IV/e dengan sebutan Guru Utama

URUTAN KEPANGKATAN PNS


Susunan Pangkat dan Golongan Ruang Pegawai Negeri Sipil Susunan pangkat serta golongan ruang Pegawai Negeri Sipil sebagai berikut:

Golongan Ia = Pangkat Juru Muda
Golongan Ib = Pangkat Juru Muda Tingkat 1
Golongan Ic = Pangkat Juru
Golongan Id = Pangkat Juru Tingkat 1

Golongan IIa = Pangkat Pengatur Muda
Golongan IIb = Pangkat Pengatur Muda Tingat 1
Golongan IIc = Pangkat Pengatur
Golongan IId = Pangkat Pengatur Tingkat 1

Golongan IIIa = Pangkat Penata Muda
Golongan IIIb = Pangkat Penata Muda Tingkat 1
Golongan IIIc = Pangkat Penata
Golongan IIId = Pangkat Penata Tingkat 1

Golongan IVa = Pangkat Pembina
Golongan IVb = Pangkat Pembina Tingkat 1
Golongan IVc = Pangkat Pembina Utama Muda
Golongan IVd = Pangkat Pembina Utama Madya
Golongan IVe = Pangkat Pembina Utama

ABJAD YUNANI

MODUL PRAKTIKUM FISIKA



MODUL praktek FISIKA
Kelas x t.p 2013/2014
PENYUSUN:
JEFRIAN AKUTU,S.Pd
(NIP. 198310142008021001)

Judul percobaan           :  Mengukur besaran panjang dengan menggunakan mistar dan jangka sorong
Standar kompetensi   :  1. Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya
Kompetensi Dasar       :  1.1 Mengukur besaran fisika
Indikator                          :  a. Melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur
                                               b. Membaca hasil pengukuran suatu alat ukur
                                               c. Menentukan hasil pengukuran dengan memperhatikan aturan angka penting
Tujuan Praktikum        :  Siswa dapat:
· Melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur dengan tepat
· Membaca hasil pengukuran secara akurat
· Menentukan hasil pengukuran dengan memperhatikan aturan angka penting

A.  Alat dan bahan
     1. Mistar
     2. Jangka sorong
     3. Dua buah silinder dengan diameter berbeda

B.  Materi
Alat pengukur panjang dasar adalah mistar. Mistar digunakan untuk menghitung panjang, lebar dan tinggi suatu benda /jarak. Mistar memiliki nilai skala terkecil (NST) 0,1 cm dan ketelitian 0,05 cm, hal ini ditandai dengan adanya 10 skala dalam 1 cm. Mistar saat ini telah dikembangkan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan manusia.
Perhatikan gambar di bawah ini!

 

Menunjukkan hasil 1,5 cm yang hasil pengukurannya dapat dilaporkan sebagai:
   p    = 1,5 cm
   Δp  = ½ x nst mistar
        = ½ x 0,1 cm
        = 0,05 cm
(p ± Δp) = (1,50 ± 0,05) cm

Alat pengukur panjang lain adalah jangka sorong yang berguna untuk mengukur panjang benda maksimum 10 cm dengan nilai skala terkecil 0,1 mm (0,01 cm). Adapun bagian terpenting jangka sorong adalah
a.  Rahang tetap, memiliki skala panjang yang disebut skala utama
b. Rahang besar (rahang sorong), memiliki skala pendek yang disebut nonius atau vernier.
Jangka sorong ini berfungsi untuk mengukur diameter luar, diameter dalam dan kedalaman sebuah silinder serta panjang sebuah benda.


Perhatikan gambar di bawah ini!

                                                                                                                                                   
 


Garis skala nonius ke empat tepat berimpit dengan garis skala utama. Menunjukkan hasil 1,37 cm yang diperoleh dari:
Dd = 1,3 cm + (7 x 0,01 cm)
      = 1,3 cm + 0,07 cm
      = 1,37 cm
Hasil ukur dilaporkan sebagai:
Dd   = 1,37 cm
ΔDd = ½ x nst jangka sorong
        = ½ x 0,01 cm
        = 0,005 cm
(Dd ± ΔDd) = (1,370 ± 0,005) cm 

C. Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Ukur panjang benda A dan lebar benda A dengan menggunakan mistar
3. Ukur panjang benda B dan lebar benda B dengan menggunakan mistar
4. Ukur diameter dalam silinder Q dengan menggunakan rahang bawah
5. Ukur diameter luar silinder Q dengan menggunakan rahang atas
6. Ukur kedalaman silinder Q
7. Ukur diameter dalam silinder R dengan menggunakan rahang bawah
8. Ukur diameter luar silinder R dengan menggunakan rahang atas
9. Ukur kedalaman silinder R
10. Catat semua hasil pengukuran pada tabel pengamatan

D.  Data hasil pengamatan
No
Benda
Panjang (p)
Lebar (l)
1
A
. . . . .
. . . . .
2
B
. . . . .
. . . . .

No
Silinder
Diameter Dalam (Dd)
Lebar (Dl)
Kedalaman (h)
1
Q
. . . . .
. . . . .
. . . . .
2
R
. . . . .
. . . . .
. . . . .

E.  Pengolahan data hasil pengukuran
     Laporkan data sesuai dengan aturan angka penting
1. Panjang (p)
    P   = .... cm
    Δp = ½ x nst mistar
          = ½ x 0,1 cm
          = .... cm
   (p ± Δp) = ( .... ± .... ) cm


2. Lebar (l)
    L    =  .... cm
    Δl  =  ½ x nst mistar
          = ½ x 0,1 cm
          = .... cm
    (l ± Δl) = ( .... ± .... ) cm
3. Diameter dalam (Dd)
    Dd    = .... cm
    ΔDd = ½ x nst jangka sorong
             = ½ x 0,01 cm
             = .... cm
    (Dd ± ΔDd) = ( ....  ± .... ) cm
4. Diameter luar (Dl)
     Dl   = .... cm
     ΔDl = ½ x nst jangka sorong
            = ½ x 0,01 cm
            = .... cm
    (Dl ± ΔDl) = ( ....  ± .... ) cm
5. Kedalaman (h)
    h    = .... cm
    Δh = ½ x nst jangka sorong
          = ½ x 0,01 cm
          = .... cm
   (h ± Δh) = ( ....  ± .... ) cm

F.  Kesimpulan
     Buat kesimpulan hasil percobaan: